Wortel Afkir Pujon Disulap Jadi Produk Bernilai

Uncategorized4 Dilihat

Mahasiswa UMM mengolah wortel sortiran menjadi produk inovatif untuk membuka peluang usaha baru bagi warga Pujon. (Foto : ist)

Malang, jatimreport.com – Wortel hasil sortiran yang selama ini sulit terserap pasar kini berpeluang memberikan tambahan nilai ekonomi bagi masyarakat Pujon, Kabupaten Malang. Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengolah komoditas tersebut menjadi produk pangan hingga perawatan kulit.

Inovasi itu diperkenalkan melalui pelatihan kepada masyarakat Desa Wiyurejo, Pujon, Minggu (13/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Projek Kepemimpinan mahasiswa PPG UMM untuk menjawab persoalan rendahnya harga komoditas hortikultura ketika panen melimpah.

Selama ini, sebagian petani menjual wortel dalam kondisi mentah melalui tengkulak. Persoalan muncul ketika hasil panen tidak memenuhi standar pasar, seperti berukuran kecil, berbentuk kurang proporsional, maupun mengalami cacat fisik.

Wortel hasil sortiran tersebut kerap tidak laku sehingga berakhir menjadi limbah. Kondisi ini mendorong mahasiswa mencari cara agar komoditas yang sebelumnya memiliki nilai jual rendah tetap bisa memberikan manfaat ekonomi.

permen jelly berbahan baku wortel afkir pujon. (Foto : ist)

Wortel Sortiran Jadi Peluang Usaha

Ketua tim mahasiswa PPG UMM, Ivone Yuliantina, mengatakan diversifikasi produk menjadi salah satu cara meningkatkan nilai tambah wortel sekaligus mengurangi potensi kerugian petani saat pasokan melimpah.

“Tujuan utama kami adalah mentransformasi wortel sortisan yang semula tidak bernilai pasar menjadi produk inovatif dengan daya jual tinggi. Kami berharap inovasi ini memberikan manfaat ganda, yakni menekan kerugian petani saat pasokan melimpah, sekaligus membuka keran peluang bisnis baru yang mampu mendongkrak kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya bagi ibu-ibu rumah tangga di Pujon,” paparnya.

Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa mengajak ibu-ibu PKK dan kelompok tani membuat Veggy Gummy, yakni permen jeli berbahan sari wortel. Produk tersebut dikembangkan sebagai salah satu alternatif olahan wortel yang lebih menarik dan memiliki nilai tambah.

Mahasiswa juga memperkenalkan Carolive, produk minyak perawatan kulit dan rambut yang memadukan ekstrak wortel dengan minyak zaitun. Diversifikasi ini menunjukkan wortel tidak hanya dapat dikembangkan menjadi produk pangan, tetapi juga memiliki potensi sebagai bahan produk perawatan tubuh.

Terapkan Konsep Nirlimbah

Pengolahan wortel juga menerapkan konsep nirlimbah atau zero waste. Mahasiswa memanfaatkan ampas wortel yang tersisa dari proses penyaringan sebagai bahan pakan budidaya maggot (Black Soldier Fly) milik masyarakat sekitar.

Dengan konsep tersebut, hampir seluruh bagian wortel dapat dimanfaatkan. Selain meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian, langkah ini sekaligus berupaya mengurangi limbah organik dari proses produksi.

Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., berharap inovasi mahasiswa tidak berhenti setelah program akademik selesai. Keterampilan yang diberikan kepada masyarakat diharapkan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“Harapan saya, kreativitas dan dedikasi mahasiswa ini tidak berhenti sebatas pemenuhan tugas akademik semata. Semoga keterampilan praktis yang telah diajarkan dapat benar-benar diadaptasi oleh warga, dikelola secara konsisten, dan menjadi cikal bakal terbentuknya UMKM desa yang solid, mandiri, serta berdaya saing luas di ranah digital,” pungkasnya. (Lee)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *