Musim hujan Jatim 2026/2027 telat, 90 persen wilayah baru mulai Desember. (Foto : ist/ai)
Surabaya, jatimreport.com — Warga Jawa Timur yang menantikan datangnya hujan sepertinya harus lebih bersabar. Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 di wilayah ini akan mengalami kemunduran dibandingkan biasanya.
Jika normalnya hujan mulai mengguyur Jawa Timur pada penghujung Oktober atau awal November, tahun ini mayoritas wilayah justru baru akan memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Baru 5 Zona Musim Masuk NovemberData BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Jawa Timur menunjukkan, dari total 74 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur, hanya lima ZOM yang diprediksi mulai masuk musim hujan pada November 2026.
Lima zona tersebut hanya mencakup sekitar 8,5 persen dari total luas daratan Jawa Timur.
Kelima wilayah itu adalah:
- ZOM 281: Sebagian besar Ponorogo (Babadan, Jenangan, Mlarak, Slahung), barat daya Madiun (Dagangan, Dolopo, Wungu), dan Magetan selatan (Kawedanan, Lembeyan, Parang).
- ZOM 289: Madiun bagian utara, sebagian Bojonegoro (Ngambon, Sekar), dan sebagian Ngawi (Bringin, Padas).
- ZOM 291: Seluruh Kota Kediri, Kediri bagian barat (Banyakan, Grogol, Tarokan), serta sebagian Nganjuk (Pace, Loceret), Madiun, dan Ponorogo.
- ZOM 335: Banyuwangi bagian barat (Genteng, Glenmore, Kalibaru, Sempu).
- ZOM 337: Bangkalan bagian barat (Burneh, Kamal, Socah).
Kelima ZOM ini diprakirakan mulai musim hujan pada dasarian III atau sekitar 21–30 November 2026. Namun, empat di antaranya (ZOM 281, 289, 291, dan 335) mengalami kemunduran sekitar 20 hari dari waktu normalnya. Hanya ZOM 337 di Bangkalan barat yang diperkirakan masuk musim hujan sesuai jadwal normal.
68 ZOM Baru Mulai Desember
Sementara itu, sebanyak 68 ZOM atau sekitar 90,6 persen luas daratan Jawa Timur baru diprakirakan memasuki musim hujan pada Desember 2026. Wilayah perkotaan seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Malang termasuk di dalamnya.
Adapun wilayah yang paling akhir memasuki musim hujan adalah ZOM 328 di Situbondo bagian utara, yang baru diprediksi mulai musim hujan pada dasarian II Januari 2027.
El Nino Kuat dan IOD Positif Jadi Biang Kerok
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, menjelaskan bahwa dinamika iklim global menjadi penyebab utama mundurnya awal musim hujan tahun ini. Ada dua fenomena yang berpengaruh besar: El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD).
El Nino sangat kuat merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di atas normal di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Pada Agustus 2026, anomali suhu tercatat mencapai +2,83 dan diprediksi bertahan hingga awal 2027. Fenomena ini umumnya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan di Indonesia.
IOD merupakan interaksi laut dan atmosfer yang ditandai perbedaan suhu permukaan laut di dua wilayah Samudra Hindia. IOD diprediksi berada pada fase positif hingga akhir 2026, yang juga berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia, terutama wilayah barat.
“Kombinasi El Nino yang sangat kuat dan IOD positif berpotensi mengurangi pasokan uap air ke wilayah Jawa Timur,” ujar Anung.
Selain itu, angin baratan atau Monsun Asia yang identik dengan datangnya musim hujan diprediksi baru mulai memasuki wilayah Indonesia bagian utara pada November 2026.
Durasi Lebih Pendek, Tapi Curah Hujan Normal
Meski awal musim hujan mengalami kemunduran dan durasinya cenderung lebih pendek, BMKG mencatat akumulasi curah hujan sepanjang musim 2026/2027 di sebagian besar wilayah Jawa Timur diprediksi tetap berada dalam kategori normal.
Masyarakat diimbau terus memantau pembaruan informasi dari BMKG. Persiapan menghadapi musim hujan juga dapat dilakukan sejak dini, antara lain dengan membersihkan saluran air dan memastikan infrastruktur lingkungan dalam kondisi baik untuk mengantisipasi genangan. (Lee)






