Kabupaten Malang, Jatimreport.com – Bayangkan, segelas susu sapi segar tiba-tiba berubah jadi camilan renyah dan minuman kekinian! Itulah yang berhasil dilakukan Kelompok 99 Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah-Aisyiyah (KKN MAS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon.
Di tengah melimpahnya produksi susu perah—yang menurut BPS Kabupaten Malang mencapai 25.490 ekor sapi—mereka justru melihat peluang emas yang selama ini terlewat.”Selama ini susu cuma dijadiin minuman biasa atau dikirim ke koperasi. Padahal, potensinya luar biasa!” ujar Monica Marchelina Iskandar, perwakilan tim, dengan semangat.
Maka muncullah dua produk unggulan yang langsung mencuri perhatian: SUKA (Susu Karot), perpaduan susu sapi dengan sari wortel segar, dan MOOCHI (Moo + Crispy), kerupuk susu sapi yang renyahnya bikin nagih.

Apa yang membuat produk ini spesial? Bukan cuma soal rasa, tapi juga filosofi di baliknya. SUKA menggabungkan hasil peternakan dan pertanian setempat, sementara MOOCHI membuktikan bahwa susu bisa jadi lebih dari sekadar minuman. Proses pembuatannya pun penuh perjuangan: dari pencucian wortel, pencampuran takaran, hingga adonan kerupuk yang dicetak, dikeringkan, lalu digoreng hingga sempurna.
Puncaknya, pada 17 Agustus 2026 bertepatan dengan HUT RI, kedua produk ini diluncurkan secara resmi. Tak tanggung-tanggung, di ajang Expo dan Bazar Kecamatan Pujon, mereka hanya membawa 7 kemasan MOOCHI dan 8 botol SUKA sebagai percontohan.
Hasilnya? Masyarakat antusias luar biasa! MOOCHI dianggap unik karena kerupuk berbahan dasar susu masih langka, sementara SUKA memikat lidah berkat perpaduan creamy dan manis alami wortel. Dengan harga terjangkau—Rp10 ribu untuk kemasan 85 gram atau botol 120 ml—produk ini siap bersaing. Modal awal pun hanya Rp85 ribu untuk tepung, wortel, minyak, dan kemasan, karena susu segar diperoleh gratis dari peternak lokal yang antusias berkolaborasi.

Kini, tim KKN MAS UMM gencar mempromosikan SUKA dan MOOCHI lewat media sosial. Harapannya, produk ini tak berhenti sebagai tugas kuliah. “Kami ingin masyarakat atau pihak desa melanjutkannya. Susu Pujon punya potensi besar untuk jadi produk unggulan berkelanjutan,” pungkas Monica.Desa Tawangsari pun kini bersiap menyambut era baru: dari ladang susu ke meja makan, dari peternakan ke kemasan kekinian. (Lee)



